Home / Budaya / Hajatan Pantai Karang Jahe Siap Di Gelar

Hajatan Pantai Karang Jahe Siap Di Gelar

Razanews.com,Rembang –

Pada tanggal 8 – 9 Mei ini bertepatan dengan Karangjahe 1st Anniversary maka warga Desa Punjulharjo menyelenggarakan kegiatan Hajatan Pantai Karangjahe sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Allah Ta’ala yang memberikan barokah atas rizqi berupa pantai yang semakin hari semakin ramai dikunjungi wisatawan.

Rangkaian acara yang mendukung pelaksanaan Hajatan Pantai Karangjahe adalah :
1. Napak Tilas Ki Ageng Gada dan Brandal Gada
Punjulharjo yang memiliki beberapa pedukuhan, salah satunya yang terluas adalah Dukuh Gada (Nggodo). Daerah tersebut mempunyai sejarah yang sangat tepat untuk menjadi pembelajaran bagi masyarakat sekarang.

Ki Ageng Gada yang mempunyai nama asli Santiyoga adalah putra dari Pangeran Santibadra yang juga menjadi Senapati Majapahit dari Tlatah Kerajaan Vassal Lasem yang bergelar Tumenggung Wilwatikta. Ki Ageng Santiyoga yang merupakan adik kandung Pangeran Santipuspa juga Bintara Dang Puhawang, sedang kakaknya adalah perwiranya yang sangat dihormati di sepanjang pantai Demak – Sedayu. Ki Ageng Gada mendapat tugas menjaga wilayah perairan laut sepanjang Gada sampai Sarang. Pada masa beliau olahraga tradisonal Pathol (bagi nahkoda kapal) mulai memasyarakat dan beliau menyi’arkan Islam didukung adiknya yang bungsu Pangeran Santikusuma (Raden Mas Said) yang kelak kita kenal dengan nama Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sedangkan keturunan beliau yang hidup pada tahun 1740an, Raden Panji Mlayakusuma membantu perjuangan Raden Panji Margono, KH Ali Baidhawi dan Oey Ing Kiat dalam Perang Lasem. Beliau yang kemudian dibantu para sahabatnya mendapat tugas menghancurkan tangsi Belanda di Rembang. Bersatupadu dengan masyarakat, yang tua muda laki-laki perempuan. Banyak yang menjadi teliksandi dan kemudian berhasil meracuni sumur Belanda sehingga ketika mereka gatal seluruh badannya berhasil diserang dan membakar seluruh benteng pertahanan. Untuk itulah beliau diberi julukan Brandal Nggada.

Harapannya dengan narasi ini dan disampaikan saat napak tilas perjuangan beliau berdua, masyarakat tidak tercerabut dari akar budaya dan sejarahnya.

2. Bancakan’e Karangjahe
Serangkaian arak-arakan tumpeng sebagai wujud syukur dimulai dari Kawasan Perahu Kuno Abad ke-7 sampai Balai Desa dan dilanjutkan ke Pantai Karangjahe. Semua masyarakat bergabung bersukaria untuk bersosialisasi dan membuktikan kesatupaduan semua elemen. Panitia telah menyediakan doorprice dalam sub acara ini.

3. Pameran Destinasi Wisata dan UMKM
Dengan adanya Pantai Karangjahe yang merupakan pemantik dunia pariwisata di Rembang kembali bangkit maka membuat pameran atau expo yang diikuti oleh sekitar 30 tenda destinasi wisata yang ada di Kab. Rembang. Ini menunjukkan satu destinasi dan destinasi laonnya adalah saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. Wisata di REMBANG harus bangkit bersama-sama dan bersinergi dengan semua stakeholder peduli wisata.

4. Kite Festival
Festival Layang-layang ini sudah kesekian kalinya diselenggarakan yang diikuti oleh para pencinta layang-layang se Kab. Rembang. Hal tersebuy untuk mengoptimalkan potensi pantai, alam pesisir dan angin laut yang belum tentu dimiliki oleh daerah lain.

5. Penanaman Pohon
Tak bisa terlepas dari kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh masyarakat setempat maupun pihak peduli di luar Punjulharjo, bahwa Karangjahe mempunyai icon hutan cemara laut. Maka pada momentum ultah yang pertama ini juga tidak meninggalkan sejarah, yaitu tetap melakukan penghijauan di beberapa lokasi sekitar tempat wisata.

6. Live Music
Dalam kesempatan ini panitia juga memberikan hiburan merakyat berupa live music dengan menghadirkan penyanyi profesional seperti Nisya Pantura, Adilia Sanca, Cita Amelia, Ian Saksasena, Arlida Putri dan Maya Sabrina.

7. Ngaos Bersama Gus Noufal
Serangkaian dalam kegiatan ultah ini maka panitia juga memberikan siraman rohani pada masyarakat dengan menghadirkan Gus Noufal sekaligus untuk meresmikan mushalla dan aula di Pantai Karangjahe.(wn)

About contributor

Check Also

Jelang Lebaran, Bupati Tanjab Barat Sidak Harga Sembako

Kuala Tungkal, razanews.com– Mendekati Hari Raya Idul Fitri, Bupati Tanjab Barat Dr. Ir. H. Safrial …

One comment

  1. Penulisan sejarah jika didasarkan pada subjektifitas penulis, maka hanya akan mrmunculkan cerita sejarah yang fiktif dan imajiner. Tanpa bukti yang bisa dipertanggunghawabkan sebuah teks sejarah hanya akan menjadi narasi yang menimbulkan pertanyaan yang tanpa pangkal dan ujung. Masih mujur jika kemudian menjafi srbuh dongeng pengantar tidur. Wallahu A’lam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *