Home / Nasional / Ratna Sarumpaet Kecewa Dengan Pemerintah Terkait Penghentian Pencarian Korban KM Sinar Bangun

Ratna Sarumpaet Kecewa Dengan Pemerintah Terkait Penghentian Pencarian Korban KM Sinar Bangun

Razanews.com-Jakarta.Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC) dan Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI) menggelar jumpa pers di Jalan Kampung Melayu Kecil 5 No 24 pada rabu malam  4 /7.

Dalam konfrensi persnya Ratna Sarumpet mengatakan,” Kami sangat menyanyangkan keputusan Pemerintah menghentikan evakuasi 164 orang korban tenggelamnya KM Sinar Bangun tanggal 18 Juni 2018 lalu.” Ucap Ratna Sarumpet

Lanjut Ratna,”Kami menganggap penghentian itu aneh, tidak transparan, dan kurang bertanggung-jawab karena Basarnas baru bekerja selama 14 hari dan Titik Ordinat dimana bangkai Kapal dan Mayat manusia terletak justru sudah di temukan pada Saat tim evakusi dari Basarnas memperlihatkan pada public rekaman video jasad beberapa korban dan benda-benda lain dari KM Sinar Bangun di dasar danau, masyarakat terutama keluarga korban telah terlanjur diberi harapan dan optimisme betapa kemungkinan jasad anggota keluarga mereka dapat dievakuasi sudah di depan mata. Namun harapan itu lenyap setelah pemerintah yang diwakili Menko Maritim Luhut B. Panjaitan mengumumkan peng-hentian upaya pencarian padahal Pemerintah masih setengah hati (belum maksimal) dan tampak sekali mencari-cari alasan untuk ”menghentikan evakuasi korban.” Rabu (4/7/2018).

Menurut Ratna,”Alasan teknis seperti tekanan air di kedalaman sekitar 500 meter yang disebut-sebut “sangat mustahil” tidak sepenuhnya dapat diterima atau masih terbuka untuk diperdebatkan. Karena sesuai penjelasan koordinator BPBN yang bertugas di pelabuhan satu malam sebelum upaya evakuasi dihentikan, kami (Ratna) mendapatkan informasi bahwa alat untuk mengangkat jasad korban dan bangkai KM Sinar Bangun sebenarnya ada di Jawa Timur. Tapi untuk membawanya ke Simalungun, Tigaras, diperlukan waktu sekitar tiga minggu dan satu minggu untuk merakitnya.,”ujarnya

Kemudian”Bagi kami kalau alat itu betul ada di Jawa Timur, waktu empat minggu yang dibutuhkan untuk memindah dan menyiapkannya sepadan dengan duka cita warga dan keluarga korban,sepadan dengan “citra buruk” yang akan selamanya melekat pada nama bangsa Indonesia karena tak cukup berupaya menyelamatkan Danau Toba dari julukan kuburan massal. Sebab bagaimanapun, keluarga korban ingin melihat jasad ataupun bagian dari jasad korban untuk dimakamkan dengan layak”. Adalah aneh kalau Indonesia tidak memiliki alat yang dibutuhkan. Tapi seandainya pun itu betul, Pemerintah harusnya bisa meminta bantuan dari negara lain demi memperlihatkan keseriusan dan perhatian negara pada korban dan keluarga korban. “Bahkan, kalau kalau persoalannya adalah “Tidak adanya dana” Rakyat Indonesia pasti tidak keberatan melakukan patungan dana”.

1. Dari beberapa kejadian dan cara-cara membujuk keluarga korban dengan cara kurang wajar, dengan memanfaatkan pengaruh Tokohtokoh Agama, serta penggunaan dukun sebagai cara mendramatisasi keadaan, kami terus terang “menduga” ada motivasi lain di balik keputusan menghentikan proses pencarian korban yang tidak disampaikan secara terbuka. Untuk itu, kami meminta agar semua pihak, seluruh rakyat dan semua badan Negara yang berkaitan dengan masalah ini memberikan attensi dan dukungan/pemikiran agar Basarnas, BPBN dan Kementerian terkait dapat segera bergerak kembali melanjutkan evakuasi.

2. Tragedi Danau Toba bukan lah Bencana alam, melainkan Bencana yang timbul akibat kelalaian manusia, terutama Pemerintah Negara. Maka Pemerintah sudah sepatutnya menjukkan rasa tanggung jawab lebih dalam menangani kasus ini.

3. Tragedi Danau Toba adalah Potret Kegagalan Negara dalam menyuguhkan pembangunan lnvrastuktur yang berkeadilan dan berharap kedepan menjadi koreksi bagi Pemerintah.(realis RSCC/Heni)

About contributor

Check Also

Gerakan Emak Emak Peduli Rakyat Mengadakan Orasi Di Depan Musium Polri

Razanews.com. rabu pagi 12/9 Gerakan Emak Emak Peduli Rakyat (GEMPUR) mengadakan aksi di depan Mabes …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *