Home / Nasional / Selama Bulan Januari s/d Maret 2017 Terjadi 127 Kasus Kekerasan Seksual

Selama Bulan Januari s/d Maret 2017 Terjadi 127 Kasus Kekerasan Seksual

Razanews.Jakarta

Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengatakan, pada tahun ini kekerasan pada anak masih terus terjadi bahkan semakin banyak pencabulan terhadap anak dibawah umur, katanya pada saat konferensi pers di kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Jakarta, Rabu (29/03).

Haris Menjelaskan, terkait pelaporan pemohon pada tahun 2017, baru ada 6 orang pemohon yang melapor dari beberapa kasus yang telah terjadi, dan 5 pemohon yang baru diterima. Nah, sebenarnya LPSK telah menangani semua kasus yang berhubungan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan Undang-undang (UU) yang berlaku, jelasnya.

“Kami sangat kesulitan membongkar si pelaku, dikarenakan saksi selain memberikan keterangan yang sebenarnya harus dibarengi dengan bukti-bukti yang kuat dan akurat,” ujar Haris.

Lanjut Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, dari beberapa kasus pelecehan terhadap anak yang mendominasi adalah pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Pada tahun 2017 terjadi peningkatan yaitu 127 kasus (Januari-Maret) 51 % kekerasan seksual, ungkapnya.

Gang Rape 2015/2017, lanjut Arist, bentuk-bentuk pelecehan seksual adalah di sodomi, pelecehan seksual, pencabulan, dan perkosaan. Usia korban 15 % korban kekerasan seksual berusia 12 tahun dan 29 % berusia 12-17 tahun. Triger/Pemicu adalah minuman keras, Narkoba, Pornografi, dan pengaruh zat adiktif lainnya, Sehingga menyebabkan pelaku kejahatan seksual 16% pelaku anak berusia 14 tahun, ungkap Arist.

Terhitung sejak 2012 hingga 2014, kata Arist, Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang daerah wisatanya sering dikunjungi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Batam, Bali dan Lombok adalah tempat wisata yang paling banyak dikunjungi pelaku kejahatan seksual seperti Pedofil. Khususnya pelaku Pedofil, Bali masih jadi sasaran utama. Sasaran Pedofilia ini terutama pada daerah wilayah dengan latarbelakang perekonomian rendah, seperti Karang Asem, Bali.

Mayoritas pelaku Pedofilia di Jakarta, Bali, dan Lombok data menunjukan berasal dari warga negara Belanda, Australia, Italia, dan Amerika. Pedofilia memilih Bali dan Lombok sebagai daerah tujuan dikarenakan dengan semakin banyaknya orang asing di Bali, dan Lombok maka keberadaan mereka dianggap biasa saja dan tidak mencolok, jelas Arist.

Sementara itu, Lili PS Wakil Ketua LPSK menambahkan, bahwa LPSK saat ini memutuskan untuk menyelesaikan kasus yang terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan, melalui Cyber pungli. Dimana Kasus itu telah melanggar aturan pemerintah, yaitu adanya pemerasan biaya terhadap kasus yang bersangkutan, sehingga korban menjadi takut untuk melaporkan kasus yang bersangkutan. Oleh karena itu, LPSK memberikan perlindungan secara fisik kepada korban, pungkas Lili.

“Saat ini, yang belum kita sentuh adalah kekerasan yang terjadi di lingkungan militer atau TNI-Polri. Nah, kasus tersebut belum banyak tersentuh oleh Komnas Perlindungan Anak. Kalau kita sentuh kasus tersebut sangat menarik sekali,” urai Lili.(nor)

About Dede

Check Also

Kelurahan Jatirahayu di HUT ke-72 Mengadakan Lomba Gerak Jalan

Razanews.Bekasi Sabtu 19/8 kelurahan jatirahayu mengadakan kegiatan lomba gerak jalan yang di hadiri oleh ketua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *